Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 13 November 2011

Penjara Bawah Tanah Di Indonesia


Konon penjara bawah tanah di Indonesia merupakan penjara bawah tanah terangker di Asia. Berikut penjara-penjara bawah tanah di Indonesia.

1. Penjara Bawah Tanah Benteng Vastenburg, Solo





Benteng megah di tengah Kota Bengawan ini, sekarang tinggal bangunan yang tak berharga dan ditumbuhi rumput ilalang yang lebat. Dalam konteks morfologi perkotaan, benteng itu memiliki peranan penting yakni pusat hubungan Solo-Semarang. 
Di tempat itu, kekuatan pasukan Belanda dipusatkan. Konon, juga ada semacam bungker bawah tanah yang cukup luas di bawah benteng. Bungker tersebut digunakan untuk penjara para tawanan. 


2. Penjara Bawah Tanah Benteng Pendem, Cilacap


foto lainnya di sini dan di sini
Siapa sangka di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, seperti Cilacap menyimpan sebuah benteng yang sangat unik. Benteng itu bernama Benteng Pendem yang dulunya di tahun 1861 merupakan benteng pertahanan tentara Hindia Belanda saat menghadapi bangsa Indonesia. Benteng di pesisir pantai Teluk Penyu ini menempati area seluas 6,5 hektare dengan beragam fasilitas wisata, seperti benteng, terowongan, landasan meriam, dan penjara bawah tanah.


3. Penjara Bawah Tanah Benteng Malborough, Bengkulu.

Objek wisata Benteng Marlborough terletak di Kelurahan Kampung Cina, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Benteng ini menjadi pusat kedudukan tentara Inggris di Bengkulu. Benteng berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 240 meter dan lebar 170 meter. Benteng ini didirikan oleh The Britsh East India Company pada tahun 1713 dan selesai pada tahun 1719.


Di benteng bagian barat daya terdapat di sebelah kiri dan kanan lorong benteng. Di sebelah kiri terdiri dari 7 lokal atau ruangan. Dinding ruangan tersebut dari pasangan batu kali, batu karang, bata dengan mempergunakan perekat campuran kapur, pasir dan tepung bata. Disamping ruangan tersebut terdapat juga ruangan yang teretak di bawah kaki kura-kura barat daya, yaitu rungan penjara bawah tanah, yang terdiri dari tiga ruangan yang keadaanya sangat gelap.


4. Penjara Bawah Tanah Museum Fatahillah Jakarta.



Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.


Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia.

5. Penjara Bawah Tanah Lawang Sewu, Semarang



Lawang sewu dibangun pada sekitar tahun 1903 dan pada masa pemerintahan Belanda gedung berlantai dua dan mempunyai ruang bawah tanah ini berfungsi sebagai kantor dari NIS (Nederlansch Indishe Spoorweg Naatschap). Sisa peninggalan Belanda yang masih terlihat jelas pada lawang sewu adalah ornamen khas eropa yang terdapat pada jendela besar di dalam gedung.



Ruang bawah oleh Jepang di gunakan sebagai penjara. Karena ruangannya yang sangat sempit dan atapnya rendah penjara-penjara ini dinamakan sebagai penjara jongkok. Sumber cahaya yang sangat minim dan kondisi ruangan yang lembab membuat suasana di dalam penjara jongkok ini cukup membuat merinding bulu kuduk.Tanah ini sering dipakai sebagai tempat eksekusi para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Jepang dan jasad-jasad mereka dibuang ke kali yang terletak di sebelah gedung ini.
Pengalaman seseorang disini.

6. Penjara Bawah Tanah Benteng Rotterdam, Makassar



Benteng Rotterdam yang sekarang dikenal dengan nama Benteng Makassar, adalah salah satu peninggalan sejarah keperkasaan kerajaan masa lalu Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa yang merupakan kerajaan yang sangat kuat dan berjaya pada abad XVII, dengan kota perniagaannya Makassar.


Di dalam benteng ini, juga terdapat Museum La Galigo yang diresmikan pemerintah pada tahun 1974. Masih di dalam benteng, juga terdapat sebuah bangunan kuno yang dulunya menjadi ruang tahanan Pangeran Diponegoro yang diasingkan dari Tanah Jawa oleh Belanda, usai Perang Jawa 1825-1830.


Ruang tahanan bekas Pengeran Diponegoro, merupakan sebuah sel penjara dengan dinding melengkung namun amat kokoh. Di ruang itu disediakan sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan salat, Al Quran, dan tempat tidur. 


7. Penjara Bawah Tanah Polwiltabes Surabaya


Gedung ini telah direstorasi pada saat Irjen Pol Anang Iskandar menjadi Kapolwitabes Surabaya 2007 lalu. Gedung utama menjadi utuh lagi. Bunker untuk penjara bawah tanah dibuka lagi meskipun tidak lagi dihuni.


Gedung utama ini memiliki empat ruangan utama. Semua ruangan itu termasuk kusen pintunya tidak ada yang berubah. Sekarang Kapolwil, Wakapolwil dan sejumlah kabag menempati gedung ini. termasuk ada ruang rapat dan lobi yang langit langitnya tinggi. Di bawahnya ada penjara bawah tanah yang tingginya satu meter. Pintu masuknya ada dua, namun sekarang yang terlihat hanya satu di sisi utara.

8. Lubang Jepang Bukittinggi





Lubang ini sebenarnya lebih tepat disebut terowongan (bunker) Jepang. Dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam Perang Dunia II dan perang Asia Timur Raya atas perintah pemerintah militer Angkatan Darat Jepang untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi dengan Komandan Tentara Pertahanan Sumatera Jendral Watanabe. Terakhir komandemen militer se-Sumatera dipimpin oleh Seiko Seikikan Kakka yaitu Jendral Kabayashi, Walikota terakhir Sito Ichori. Bukittinggi dengan nama Shi Yaku Sho meliputi Kurai Limo Jorong dan juga mencakup Ngarai Sianok, Gaduik, Kapau, Ampang Gadang, Batutaba dan Bukit Batabuah. Lubang Jepang memiliki panjang sekitar 1400 m dan lebar ± 2 m. Kita dapat masuk ke Lubang Jepang ini dan dengan menelusurinya kita akan merasakan sensasi yang sangat unik. Didalamnya terdapat ruang makan, ruang minum, ruang penyiksaan, dapur dan ruang persenjataan. 

9. Penjara Benteng Van Den Bosch, Ngawi




Di Ngawi, Jawa Timur ada benteng pendem juga.
Benteng Van Den Bosch dibangun pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1839 – 1845 dengan nama Font Van Den Bosch . Terletak di Kelurahan Pelem , Kecamatan Ngawi wisata sejarah ini mudah dijangkau dengan alat transportasi karena letak dekat dengan pusat kota Ngawi.


0 komentar:

Posting Komentar